Pillars of Eternity II: Deadfire: Buat Penggemar Dungeons & Dragons

Pillars of Eternity II: Deadfire – Obsidian dikenal sebagai pengembang game yang identik dengan game-game RPG barat. Sebut saja beberapa game besutannya seperti Star Wars Knights of the Old Republic II: Sith Lord, Alpha Protocol, Fallout New Vegas, Neverwinter Nights 2, Pillars of Eternity dan masih banyak lagi. Setelah kesuksesan salah satu serinya, Pillars of Eternity, Obsidian akhirnya merilis kelanjutannya. Sekuel game besutannya tersebut masih hadir dengan gaya permainan ala RPG Dungeon and Dragons. Gaya yang dianut oleh game RPG satu ini mengingatkan pada beberapa judul seperti Baldur Gates ataupun Pool of Radiance. Sudut pandang kamera yang digunakan masing dengan perspektif isometrik. Akan tetapi, Pillars of Eternity II: Deadfire mengusung grafik 3D. Banyak penggemar game RPG yang melewati game satu ini, mungkin karena Pillars of Eternity nggak sepopuler Dragon Age series maupun game dengan model Dungeon and Dragons, namun bukan berarti game ini layak dilewati. Bagi kalian yang belum mencoba, Sobatgame akan membahas game satu ini, siapa tahu hati kalian tergugah untuk memainkan game satu ini. Penasaran? Yuk ikuti artikel Sobatgame satu ini hingga akhir.

Pillars of Eternity 2

Plot Cerita: Disarankan Untuk Memainkan Prekuelnya

Secara cerita, Pillars of Eternity II: Deadfire merupakan sekuel langsung dari game sebelumnya yang mengambil latar tempat di dunia Eora. Sebelum memainkan sekuelnya ini, untuk mengetahui ceritanya kami sarankan kalian untuk memainkan prekuelnya. Sama seperti game sebelumnya, kalian akan bermain sebagai seorang Watcher yang mana memiliki kemampuan untuk melihat jiwa orang lain dan membaca memorinya. Cerita game ini di muali 5 tahun setelah kejadian game pertama. Eothas, dewa cahaya yang dipercaya telah mati, bangun di bawah benteng Caed Nua. Bangunnya Dewa Cahaya tersebut menghancurkan keberadaan Caed Nua. Dalam keadaan seperti ini, mereka dihubungi oleh Dewa kematian bernama Berath yang menawarkan mengambalikan jiwa mereka jika mereka setuju untuk menjadi pewarta Berath dan mengejar Eothas dan mencari tahu apa yang sang Dewa cahaya tersebut rencanakan. Perburuan Eothas membawa sang Watcjer menuju ke kepulauan bernama Deadfire di mana mereka harus mencari jawaban yang bisa membawa mereka ke kematian.

Pillars of Eternity 2

Dalam perjalanannya tersebut, sang protagonis utama akan bertemu empat faksi yang berbeda, di antaranya Royal Deadfire Company, Rauatai Empire, Valian Trading Company, Huana, dan juga Principi sen Patrena. Dalam perburuan ini, kalian bisa meminta bantuan dari keempat faksi tersebut. Begitulah secara garis besar plot cerita yang disajikan oleh game Pillars of Eternity II: Deadfire. Bagaiamanakah dengan grafis dan juga gameplaynya?

Penuh Dengan Hal yang Baru

Pada seri keduanya ini, Obsidian mencoba untuk memberikan pendekatan yang berbeda. Kini kalian nggak akan hanya menemukan masyarakat medieval dilengkapi dengan beragam ras dan monseter. Seperti yang kami jelaskan sebelumnya bahwa dalam game ini terdapat empat faksi, maka kalian akan menemukan masyarakat dengan gaya hidup yang berbeda. Banyak istilah, nama karakter, dan nama suku yang harus kalian ingat untuk memudahkan jalannya permainan. Sejak seri pertama, Obsidian nggak menekankan pada sisi grafis. Game ini masih tetap meneruskan gaya kamera isometrik dengan karakter 3D. Namun, bukan berarti dengan gaya klasik, Pillars of Eternity nggak menawarkan suatu kebaruan. Sekuel Pillars of Eternity ini mengusung konsep open-world yang memungkinkan kalian untuk bergerak lebih leluasa dan mengeksplorasi dengan lebih bebas.

Aspek lain yang ditawarkan dari sekuel game RPG besutan Obsidian ini adalah pertempuran kapal. Akan tetapi, jangan berharap mendapatkan pertarungan antar kapal seperti game Assassin’s Creed Black Flag. Kalian hanya akan melihat teks dan juga lukisan ketika dihadapkan dengan kapal musuh. Mungkin ini yang menurut kami menjadi salah satu kekurangan yang menjadikan game ini kurang greget.

Pillars of Eternity 2

Kesimpulan: Gaya Klasik dengan Jalan Cerita Cukup Menarik

Namun yang menurut kami menjadi kekurangan game ini adalah masih terdapat bug yang cukup mengganggu. Selain itu banyak karakter dan cerita yang seharusnya menarik nggak ada ruangan untuk bernapas. Seharusnya game RPG harus memiliki playtime yang panjang, hal ini yang menurut kami agak mengecewakan dari game ini. Penyajian main quest pada Pillars of Eternity II ini berjalan sangat cepat. Begitu juga fitur pertempuran kapal yang begitu garing. Akan tetapi, di balik itu semua, seri Pillars of Eternity kedua memiliki jalan cerita yang cukup menarik dan seru untuk diikuti. Maka dari itu, membeli game ini bukanlah keputusan yang salah.

Leave a Comment